Kamis, 29 Mei 2025

Sumbar Trip 2025: Mudik ke Talang

Talang, 20 Maret 2025

Setelah menetap di Pampangan selama dua hari, aku dan Icha berangkat ke Talang, Kabupaten Solok, kampung halaman almarhum papa aku, naik mobil travel sampai turun di pool Jasa Malindo dan Trans Mitra di Simpang Haru, Padang Timur, untuk naik bis Jasa Malindo jurusan Padang–Solok, turun di Talang. Aku dan Icha ikut naik bis sampai turun di seberang SMP Negeri 1 Talang. Kami pun jalan kaki menuju rumah Te Sarinah dengan menuruni bukit. Di tengah perjalanan jalan kaki itu, Icha kasih uang ke aku 50 ribu dari Fazil.

“Uangnya dipakai yang perlu-perlu saja. Hemat-hemat. Jangan banyak jajan,” kata Icha.

Beberapa detik kemudian, kami tiba di rumah Te Sarinah, lewat lorong kecil yang mengapit dua sisi rumah penduduk hingga sampai di pintu masuk rumah Te Sarinah. Tak banyak orang yang menghuni rumah Te Sarinah saat aku tiba. Selain Te Sarinah dan Pak Etek yang akan berangkat ke Jakarta dan menetap di Bogor beberapa hari kemudian, ada Da Yuri (anak Te Sarinah), Uni Ala (istri Da Yuri), Rika (anak sulung Da Yuri), dan Fathir (anak Da Yuri; adiknya Rika). Aku lihat ada anak yang beranjak remaja, itu Fathir yang wajahnya masih seperti anak SD tapi sudah lumayan tinggi. Aku terakhir kali bertemu Fathir sekitar tiga tahun yang lalu saat aku liburan di Sumatera Barat. Salah satu perubahan yang dialami Fathir adalah main game online di HP-nya, kemungkinan main Mobile Legends. Sorenya, aku sempat nonton live reaction pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Australia melawan Indonesia di YouTube melalui HP aku. Pertandingan tersebut merupakan laga debut Patrick Kluivert sebagai pelatih timnas senior Indonesia, menggantikan Shin Tae-yong yang mendadak dipecat dari kursi pelatih timnas senior Indonesia pada awal tahun 2025. Saat Magrib, aku berbuka puasa bersama di rumah Te Sarinah bersama sanak keluarga yang lainnya, termasuk Icha yang masih berada di sana. Malam tiba, aku tidak ikut salat tarawih di masjid karena aku baru tiba di Talang setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Padang dan ingin beristirahat dengan menetap di rumah Te Sarinah. Sekitar jam empat pagi, aku makan sahur pertama kali di Talang bersama sanak keluarga di kampung setelah terakhir kali melakukannya pada tahun 2013 atau dua belas tahun lalu.

Rabu, 28 Mei 2025

Sumbar Trip 2025: Tiba di Padang

Saat tiba di Masjid Raya Sumatera Barat.
Saat istirahat di kamar lantai atas rumah Icha di Pampangan. Laptop aku yang menampilkan foto bareng Didi Riyadi saat acara donor darah di Tangerang Selatan.

Suasana di Masjid Darul Dzikir Pampangan.

Padang, 18 Maret 2025

Sektiar pukul 10.45, bis yang aku tempati saat mengikuti program mudik “Pulang Basamo 2025” tiba di Masjid Raya Sumatera Barat yang merupakan titik akhir pemberhentian bis jurusan Jakarta–Padang. Setelah turun dari bis, aku menelepon Icha dan Fazil—keponakanku di Padang—untuk rebutan siapa yang mengantarku ke Pampangan, Lubuk Begalung, tempat Icha tinggal, tepatnya di Komplek Pelana Indah Pampangan. Fazil sudah bersedia jemput aku di Masjid Raya Sumatera Barat, sedangkan Icha sedang dalam perjalanan menuju Masjid Raya Sumatera Barat. Siapa yang datang duluan, dia yang akan jemput aku ke Masjid Raya Sumatera Barat untuk diantar ke Pampangan. Akhirnya Fazil tiba lebih dulu di Masjid Raya Sumatera Barat dengan mengendarai motor, meski Icha bakal jemput aku pakai mobil Maxim. Karena Fazil datang duluan, aku sempat menelepon Icha memberi kabar jika Fazil sudah tiba di Masjid Raya Sumatera Barat. Aku pun diantar Fazil pakai motor hingga tiba di rumah Icha (dan juga rumah Fazil) pada 11.33. Begitu sampai di rumah Icha, aku pun langsung naik ke kamar yang ada di lantai dua, menaruh tas yang dibawa dari Tangerang Selatan. Tak lama berselang, aku mengeluarkan laptop dari ransel dan menyalakannya. Di tengah bulan Ramadan, aku disuruh Uni Rahma—sepupuku dari Padang dan ibu dari Icha dan Fazil—untuk membatalkan puasa saat perjalanan jauh. Sementara Icha melihat wajahku pucat setelah menempun perjalanan jauh dari Tangerang Selatan ke Padang dalam dua hari. Akhirnya, aku batal puasa dengan minum teh manis hangat dibawa ke kamar lantai atas. Malamnya, aku menuaikan ibadah salat tarawih di Masjid Darul Dzikir Pampangan, dekat rumah Icha. Selain itu, aku juga sempat menonton sinetron yang ditayangkan di SCTV di rumah Icha, sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan di rumahku sendiri di Tangerang Selatan. Lanjut pada malam harinya, aku tidur di kamar lantai atas rumah Icha, sendiri tanpa ditemani siapa pun hingga akhirnya aku bangun sahur sekitar jam empat pagi dan menyantap sahur dengan waktu lebih lambat di Tangerang Selatan.

Selasa, 27 Mei 2025

Sumbar Trip 2025: Menuju Kampung Halaman (Part 3)

Note: Postingan sebelumnya ada di blog pendahulu, silakan baca part 1 di sini dan part 2 di sini.


Di Rumah Makan Umega, Kabupaten Dharmasraya.


Ngopi dulu sebelum bis jalan lagi.

18 Maret 2025

Sekitar pukul 02.45 WIB, bis nomor 5 rombongan Pulang Basamo tujuan Padang tiba di Rumah Makan Umega, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Seperti biasa, para pemudik keluar dari bis dan melakukan beragam aktivitas seperti membeli makanan, beribadah di musala, hingga buang air kecil di toilet. Begitu turun dari bis, aku mengikuti Fikri yang duduk di sebelahku. Mulai dari pergi ke toilet, menunggu Fikri selesai salat di musala (aku salat Maghrib dan Isya di dalam bis), hingga akhirnya santap sahur di Rumah Makan Umega. Sebagai catatan, aku sahur pakai nasi dan telur balado yang harganya 25 ribu rupiah. Sebelum membayar makanan yang aku santap, aku sempat diberi uang sebesar 33 ribu rupiah dari Fikri untuk uang makan saat turun dari bis. Setelah makan, aku menyempatkan diri untuk membeli kopi bubuk Good Day Cappuccino yang sudah diseduh seharga lima ribu rupiah dan kopi itu, aku bawa ke dalam bis beberapa menit sebelum bis kembali berjalan menuju tempat tujuan.

***

Sampai Talang, tapi maaf aku ke mau Padang dulu.


Sampai juga di Masjid Raya Sumatera Barat.

Sekitar pukul 06.30 WIB, Fikri turun dari bis di Sawahlunto karena dia mudik ke kota tersebut. Beda halnya dengan aku yang bingung mau turun di Padang atau di Talang, Solok yang merupakan kampung halaman almarhum papaku. Sekitar pukul 08.00 WIB bis melewati Talang, tepatnya di depan SMP Negeri 1 Talang, tempat biasa aku turun dari kendaraan jika aku pergi ke Talang karena rumah adik papaku yang bernama Te Sarinah berada di seberang SMP Negeri 1 Talang, lebih tepatnya masuk ke dalam perbukitan. Karena masih bimbang dan aku tak sempat meminta kenek bis turun di depan SMP Negeri 1 Talang, secara otomatis aku melanjutkan perjalanan mudik hingga aku tiba di Masjid Raya Sumatera Barat pada pukul 10.45 WIB. Padahal Pak Etek (suami Te Sarinah) sempat memintaku turun di SMP Negeri 1 Talang lewat pesan di WhatsApp. Setelah tiba di tempat tujuan akhir, aku bisa merasakan bagaimana mudik ke Padang sendirian hanya bermodalkan program mudik gratis. Rasanya aku tidak menyangka bisa mudik ke Padang dengan cara yang luar biasa. Perjalanan aku di Sumatera Barat akan segera dimulai.

Sumbar Trip 2025: Bertemu Mas Yudi

Masjid Mahmud Aro Talang, tempat aku salat Jumat di Talang. Talang, 21 Maret 2025 Hari Jumat, aku pergi salat Jumat di Masjid Mahmud Aro T...